Sekilas judul tulisan artis Pandji Wragiwaksono berikut ini terkesan negatif terhadap pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Artikel ini ditulis Pandji dengan judul “Saya DIbayar Anies Baswedan”.
Tetapi, tulisan Pandji tersebut justru sebaliknya bisa membungkam para pendukung Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Berikut ulasannya:
“SAYA DIBAYAR ANIES BASWEDAN”
Ditulis oleh : Pandji Pragiwaksono
“Dji.. Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?”
Itu kalimat pembuka yang sering teman teman saya tanyakan. Biasanya duduk mendekat, suaranya tiba-tiba memelan supaya yang lain tidak dengar. Lalu mereka mulai membuka obrolan dengan “Gimana Anies?”
Lalu setelah saya cerita tentang situasi pilkada terkini dari kacamata seorang jubir, baru setelah itu baru mereka melemparkan kalimat tadi…
“Temen-temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?”
“Nggak kenapa napa,” balas saya sembari tertawa. Yang terjadi selanjutnya adalah obrolan terbuka dan apa adanya dari saya kepada siapapun teman yang bertanya. Saya memang selalu senang kalau teman memilih untuk bertanya langsung, karenanya saya akan berikan jawaban seterbuka mungkin untuk apresiasi kebaikan dirinya untuk bertemu saya langsung ketimbang ngomel-ngomel secara terbuka apalagi di sosial media.
Nyari 100% pasti tidak saya gubris. Twitter, Facebook, WhatsApp, bukanlah medium yang saya pilih kalau mau berdiskusi. Capek tek-tok-nya. Bales-balesin satu persatu nggak selesai selesai, belum lagi yang lain nyamber, lalu orang lain lagi nyamber.
Berusaha menjelaskan sesuatu yang krusial di jejaring sosial itu seperti di sidang di depan khalayak umum. Argumentasi bukan jadi utama lagi, akan jadi kesempatan bagi orang untuk menghardik dan menghakimi. And im not in any trial. I don’t have to answer to anybody. Tetapi kalau mau berbincang langsung, saya jawab dengan senang hati.
Biasanya, setelah pertanyaan “Temen-temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?” saya jawab dengan becanda, dia selalu lempar pertanyaan sebenarnya “Jadi elo tuh kenapa milih Anies?”
Nah ini saya bisa jawab. Lebih mudah, kalau saya mulai dengan:
“Kenapa saya tidak memilih Pak Basuki”, baru “Kenapa saya memilih Mas Anies” Setuju? Baiklah mari kita mulai.
Mengapa tidak memilih Pak Basuki?
Karena saya sejak awal tidak memilih beliau. Saya memilih Pak Jokowi. Saya memilih Gubernur yang peduli dengan CARA dia melakukan sesuatu bukan hanya melakukan tanpa pertimbangan dalam tindakan. Gubernur yang memilih pendekatan humanis. Yang berjanji tidak akan menggusur dan memilih menggeser. Gubernur yang ingat sakitnya digusur.
Penggantinya, tidak memiliki pendekatan yang sama. Anda bisa cek di TL akun-akun pendukungnya dan Anda mungkin bisa tonton argumennya di Youtube, setiap kali ditanya soal janji kampanye jawaban mereka selalu sama: “Yang janji kan Pak Jokowi. Bukan Pak Basuki.”
Berarti anggapan saya benar. Semakin kuat alasan tidak berlanjut dengan Pak Basuki, karena beliau memilih jalan sendiri yang berbeda dengan jalan yang diambil Pak Jokowi.
Dampaknya, dalam beberapa bulan Pak Basuki menggusur 8.000 kepala keluarga. Coba bandingkan dengan Fauzi Bowo yang menggusur 3.200 kepala keluarga dalam 5 tahun!
Sampai sini saja harusnya cukup membuat Anda tercengang. 8.000 dalam beberapa bulan vs 3.200 dalam 5 tahun. Kalau dibilang Pak Basuki bisa kerja, kelihatannya bisa banget bahkan lebih gesit daripada Pak Foke dalam urusan menggusur.
Kelihatannya Pak Basuki ingin bekerja dengan cepat agar pembangunan berjalan. Tapi Ayah almarhum pernah berpesan “Cepat, boleh. Buru-buru, jangan”.
Kalau angka itu tidak cukup membuat Anda kaget karena Anda bilang “Tapi kan dipindahin ke tempat tinggal yang lebih baik, yang dulu begitu nggak?”
Selain Anda bisa baca cerita mengenai pilunya orang-orang yang dipindah ke rusun setelah dicabut dari kehidupan lamanya sehingga tidak bisa berpenghasilan (Ya bayangin aja seumur hidup biasa nyari penghasilan dari laut tiba tiba dipindah 24km dari sana) juga dituliskan di artikel itu bahwa warga gusuran menambah jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan.
Saya tahu ada video penghuni rusun yang bilang hidupnya nyaman dan nikmat di tempat yang sekarang. Okay, berapa orang tuh? Coba bandingkan dengan yang kecewa dan tidak terima digusur.
Kalau memang relokasi itu dilakukan dengan baik dan dengan manusiawi, ya mana mungkin sih sebanyak itu yang protes?
Kan warga itu hanya ingin untuk tetap punya kehidupan. Punya penghasilan. Punya pekerjaan. Kalau hidup mereka nyaman sebagaimana harusnya dijamin oleh pemerintah, mana mungkin sih mereka protes?
Sebagaimana banyaknya warga yang protes dengan reklamasi Teluk Jakarta. Sesuatu yang nggak tahu kenapa ngotot dibela oleh banyak pendukung Pak Basuki. Kurang jelas apa? Ditolak Greenpeace yang hidup matinya mengenai lingkungan. Ditolak Ibu Susi Pudjiastuti yang jelas jelas adalah Menteri Kelautan dan Perikanan. Ditolak oleh Marco Kusumawidjaja yang reputasinya dibangun sejak begitu lama sebagai ahli tata kota.
Saya tahu banyak yang membela reklamasi di timeline twitter Anda, tetapi kompetensi mereka dibandingkan Greenpeace, Ibu Susi, dan Mas Marco itu apa?
Anda mau membandingkan argumen seorang persona di twitter dengan Menteri?
Itu keyakinan Anda?
Mungkin pertanyaan lebih mendasar di Pilkada DKI Jakarta ini adalah: Anda memilih Gubernur untuk anda. Atau untuk seluruh warga Jakarta?
Anda mencari pemimpin yang bisa memperjuangkan kepentingan Anda, atau Anda mencari pemimpin yang bisa memperjuangkan kepentingan seluruh warga Jakarta?
Karena untuk setiap jawaban, Anda akan bertemu dengan nama gubernur yang berbeda. Kalau Anda mencari Gubernur untuk Anda sendiri, maka pilih Pak Basuki, saya tidak akan menghalangi Anda. Bahkan saya mendukung Anda.
Tapi saya akan ada di seberang Anda.
Karena saya tidak perlu dibantu oleh Gubernur DKI Jakarta. Saya terdidik dan saya berdaya. Saya bisa mandiri dan memperjuangkan keperluan saya sendiri. Adalah warga Kampung Akuarium, warga Kampung Duri, dan seluruh warga DKI Jakarta lain yang suaranya tidak ada di sosial media, yang lebih butuh bantuan dari seorang Gubernur DKI Jakarta.
Mereka butuh dibantu untuk bisa memiliki rumah.
